Mengejar Revolusi Industri Keempat

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Aktivitas politik dengan segala macam style memenuhi segala lini masa kehidupan di Indonesia sejak tahun 2014, tepatnya yaitu sejak perhelatan Pemilu yang cukup membelah komponen bangsa. Bila ditarik lebih jauh, hegemoni masyarakat pada era ini muncul ketika reformasi digaungkan, setelah keran politik masyarakat dibuka melalui amandemen konstitusi. Energi besar telah dikeluarkan oleh bangsa ini untuk memenuhi hasrat ‘rutinitas demokrasi’ tersebut (pemilihan umum presiden-wakil presiden, DPR, DPRD, dan DPD ditambah pemilihan umum kepala daerah), tapi sudahkah energi kita telah disalurkan pada jalur yang benar?

Memulai tulisan ini saya ingin berkisah persaingan antara Thomas Alfa Edison dan Nikola Tesla, persaingan keduanya sering disebut sebagai “War of Currents”. Perang atau lebih tepatnya kompetisi intelektual di antara 2 orang ilmuwan ini terjadi dalam hal sistem aliran listrik, yakni arus langsung (DC) dan arus bolak-balik (AC). Pada mulanya Edison yang dengan gemilang mengenalkan lampu bohlam dengan menggunakan sistem arus langsung (DC), dan mendirikan sebuah perusahaan penyuplai listrik untuk warga.

Tidak lama kemudian, muncul Tesla yang bekerja di perusahaan milik Edison tersebut. Tesla dengan cepat mampu mendeteksi kelemahan sistem arus DC milik Edison dan memberikan ide desain berupa arus bolak-balik (AC) untuk memperbaiki sistem yang sudah ada, tapi Edison menolaknya dan menganggap ide itu hanya gurauan saja. Hal ini membuat Tesla kecewa, lalu ia keluar dari perusahaan Edison dan bergabung dengan George Westinghouse hingga kemudian berhasil membuktikan bahwa teknologi arus bolak-balik (AC) miliknya lebih praktis, mudah dan tidak membutuhkan biaya mahal, hingga akhirnya seluruh dunia menerima temuan Tesla tesebut.

source: http://www.tesla-institute.com

Perang propaganda dilakukan oleh Edison untuk menutupi fakta yang sebenarnya. Salah satu propaganda yang terkenal yaitu terkait kursi listrik untuk eksekusi terpidana yang dihukum pidana mati. Hingga akhirnya Edison mengaku kalah dengan ber-statement bahwa Ia menyesal tidak mendengarkan ide Tesla sebelumnya dan perusahaan General Electric milik Edison mau memproduksi alat listrik yang menggunakan AC. Singkatnya, berkat perang intelektual mereka hari ini kita bisa hidup dengan lebih mudah di segala lini kehidupan.

Source: ffden-2.phys.uaf.edu

Kisah antara Edison dan Tesla memberikan pesan bahwa untuk menghasilkan hal besar (penemuan besar) membutuhkan energi yang besar. Dengan kata lain, energi yang besar dapat menghasilkan hal besar apabila disalurkan pada jalur dan konteks yang benar. Hal besar sering dinilai sebagai suatu tindakan yang berpengaruh besar bagi umat manusia, yang kemudian bisa meningkatkan bahkan memperbaiki peradaban manusia di muka Bumi ini.

Revolusi Industri 4.0: Akhir Kisah Manusia?

Revolusi Industri bisa disebut sebagai perubahan besar yang terjadi pada kehidupan umat manusia, yang bersifat cepat dan apabila menggunakan istilah kekinian yaitu sangat radikal. Sejarah mencatat telah terjadi 3 fase Revolusi Industri, Pertama yaitu era-1784 ditandai dengan penggunaan kekuatan uap dan tenaga air untuk melangsunkan produksi massal, Kedua yaitu era 1870 dengan menggunakan daya listrik untuk melangsungkan produksi masal (Edison-Tesla), Ketiga yaitu era 1969 dengan menggunakan kekuatan elektronik dan teknologi informasi untuk otomatisasi proses produksi atau sering disebut Revolusi Digital.

Lantas, apakah yang dimaksud Revolusi Industri Jilid 4 atau sering disebut sebagi the fourth industrial revolution? Mengapa manusia perlu mempersiapkan ‘akhir’ kisahnya di Bumi ini?

Klaus Schwab, Founder dan Executive Chairman World Economic Forum (WEF) menggambarkan bahwa Revolusi Industri keempat merupakan transformasi lebih jauh dari Revolusi Digital yang memadukan dunia fisik, digital, dan biologi menjadi satu kesatuan sistem. Revolusi ini akan bersentuhan langsung dengan ‘fitrah’ manusia sebagai mahkluk, beberapa teknologi dipersiapkan untuk memperpanjang masa hidup manusia, merancang bayi, dan mengekstrasi ingatan manusia.

Source: via google.com

Pada kurun waktu sepuluh tahun ke depan, kehidupan kita akan terbiasa dengan robot, kecerdasan buatan (artificial inteligence), nanotechnology, kendaraan tanpa awak (autonomous vehicles), 3-D Printing, biotechnology, the internet of Things, energy storage, dan quantum computing. Meminjam istilah dari Gerd Leonhard seorang futurist dari Jerman, ke depan science fiction akan benar-benar kita saksikan menjadi science fact.

Revolusi keempat ini akan menjadi simalakama bagi umat manusia, di satu sisi kehadirannya akan mempermudah aktivitas manusia di sisi lain terdapat banyak hal negatif, yang terburuk adalah terkait ketimpangan. Revolusi Industri keempat ini akan memberikan kenyamanan yang berlebih pada beberapa pihak yaitu, pemegang saham dan para investor. Berbanding terbalik, ketika otomatisasi mesin (artificial inteligence dan robot) menggantikan peran manusia di seluruh lini, maka pengurangan tenaga kerja manusia akan meningkatkan ketimpangan sosial di sektor perekonomian.

Source: http://www.futuristgerd.com

Lebih berbahaya lagi yaitu di sektor pertahanan dan keamanan dunia, revolusi industri keempat berpotensi melahirkan pada konflik besar. Apalagi dalam modern conflicts, kehadiran non-state actor akan semakin sulit diprediksi, sehingga akan semakin membuat blur antara war and peace, combatant and noncombatant.

Akhirnya, kita sebagai manusia patut bersiap dengan perkembangan dunia yang sangat cepat. Lebih penting lagi, sebagai salah satu rakyat Indonesia sudah sewajarnya bahwa kita harus sadar, Indonesia tidak boleh hanya menjadi ‘penonton’ dan ladang pasar bagi para penguasa teknologi, kita tidak boleh hanya menanggung risiko tapi juga harus menikmati dampak ekonomi dari revolusi industri keempat ini.

Referensi:

  1. Raymond R. Tjandrawinata, “Industri 4.0: Revolusi Industri Abad Ini dan Pengaruhnya pada Bidang Kesehatan dan Bioteknologi, Jurnal Medicinus, Vol. 29, No. 1, April 2016, hlm. 31-39.
  2. https://www.weforum.org/agenda/2016/01/the-fourth-industrial-revolution-what-it-means-and-how-to-respond/
  3. https://www.forbes.com/sites/bernardmarr/2016/04/05/why-everyone-must-get-ready-for-4th-industrial-revolution/#28b4ebbd3f90
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

2 thoughts on “Mengejar Revolusi Industri Keempat

  • June 12, 2017 at 7:39 am
    Permalink

    Mantap👍🏻 Sangat menginspirasi, terima kasih

    Reply
    • June 12, 2017 at 7:56 am
      Permalink

      Terima kasih, sudah berkunjung. Ayo kapan bisa diskusi ngobrol bareng ca? @Farisa

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *