Akhir Kepemimpinan Sapiens

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Beberapa waktu lalu saya menulis terkait Mengejar Revolusi Industri Keempat (the fourth industry revolution), suatu era kehidupan manusia yang benar-benar baru, kombinasi antara dunia fisik, digital, dan biologis yang pada akhirnya akan berpotensi merobek hakikat hidup manusia.

Kali ini saya akan mengupas tuntas dan lebih mendalam, tidak hanya tentang bagaimana ‘dunia baru’ ini akan mengubah setiap lini kehidupan kita, tapi yang lebih penting lagi adalah berapa besarkah pengaruhnya terhadap kesatuan umat manusia di Bumi ini. Pertanyaan yang lebih menohok ‘apakah kondisi kita sebagai manusia (saat ini) akan berlanjut atau berubah?’.

Di awal saya ingin bertanya satu pertanyaan penting kepada para pembaca yang mulia, “Menurut anda, apakah masalah paling utama umat manusia di planet bumi saat ini?” Anda mungkin akan menjawab: kemiskinan, pendidikan, wabah penyakit, global warming dan masih banyak jawaban pantas lainnya.

Apabila kita mau jujur melihat kumpulan manusia di bumi ini sebagai satu kesatuan, maka kita harus mengatakan bahwa masalah utama manusia saat ini adalah kesenjangan atau inequality. Di manapun tempatnya, baik dalam satu kota, satu provinsi, satu negara, satu wilayah regional, bahkan di dalam satu unit desa, kesenjangan itu ada.

source: abc.net.au

Sudjiwo tejo berucap “sebagai suatu ilmu, mathematics adalah bukan tentang kepastian, tapi suatu bentuk kesepakatan.” Posibilitas adanya era dunia baru akan sangat tergantung bagaimana kita mulai menyikapinya, kita tidak mungkin mau menghentikan perkembangan teknologi karena memang telah memberikan kenyamanan bagi kita, tetapi kita mampu untuk menentukan ke arah mana agar teknologi yang ada tidak akan membunuh kita sebagai umat manusia.

China Menyusul Barat

Semua manusia tidak bisa meramal masa depan secara detail, kita hanya mampu melakukan pemetaan (mapping) tentang potensi-potensi yang paling mungkin terjadi. Salah satu cara yang paling ampuh untuk memetakan masa depan yaitu dengan mempelajari masa lalu.

Sebenarnya dari manakah kesenjangan di antara negara-negara itu timbul? Atau sejak kapan lahir negara kaya dan negara berkembang-negara miskin? Tentunya apabila menengok ke belakang, momentum paling penting di akhir abad ke-19 yang menandakan dimulainya hal tersebut yaitu ketika manusia berhasil melakukan revolusi industri dan ditandai dengan kemampuan manusia menguasai kekuatan baru yang sangat besar melalui listrik, uap air, minyak, dan radium.

Kekuatan baru tersebut membuat manusia mampu memproduksi tekstil, makanan, kendaraan bermotor (menggantikan tenaga hewan sepeti kuda, kerbau dan keledai), peralatan senjata, tentunya dengan biaya yang lebih murah, cepat dan efisien.

Revolusi industri di abad ke-19 tersebut baru menjadi persoalan ketika adanya penguasaan teknologi indsutri tidaklah terbagi secara equal kepada semua negara, masyarakat, dan semua ras di bumi ini. Intinya teknologi industri pada saat itu hanya dikuasai oleh segelitintir pihak.

Negara-negara kunci pada saat itu yang berhasil menjadi lokomotif adalah Britain, Perancis, Jerman, dan Amerika Serikat. Sebaliknya, di hampir semua negara lain yang ada di dunia ini tidak terjadi adanya revolusi industri tersebut, perbedaan tersebut yang kemudian menimbulkan adanya gaps, jurang pemisah antara negara adidaya dan negara pengekor.

Hal ini telah menjadikan adanya jarak yang sangat jauh misalnya antara Inggris dan Perancis dengan negara China dan India pada awal abad ke-19 hingga akhir abad ke-20. Dan, baru di akhir dekade ini kita bisa menyaksikan China dan India berhasil menyusul gaps tersebut.

Artinya butuh kurang lebih 150 tahun bagi China dan India untuk menyusul negara-negara inventor yang sudah suskses sejak revolusi industri yang lalu. Bahkan apabila kita menengok ke Afrika dan sebagian besar negara Timur Tengah, gaps tersebut saat ini cenderung terus melebar.

source: forbes

Revolusi Industri Keempat

Pandangan kita beberapa dekade ke depan terkait revolusi industri keempat akan sangat berbeda dan lebih dramatis, terkhusus bagi keutuhan umat manusia. Ini bukan lagi tentang kekuatan energi yang dihasilkan dari minyak, listrik, tapi ini berkaitan dengan ‘the new power of computer algorithms and the biotechnology’.

Kekuatan baru tersebut  tidak digunakan untuk memproduksi manufaktur dalam bentuk tekstil, makanan, dan kendaraan. Pentas spektakuler yang terjadi di abad ke-21 adalah tentang perubahan besar yang menyangkut tubuh (bodies), otak (brain), dan pikiran (minds).

Perlu digarisbawahi, belajar dari apa yang terjadi di abad ke-19, besar kemungkinan revolusi industri keempat  juga akan mengalami penyebaran yang tidak merata ke seluruh negara dan belahan dunia. Hari ini kita telah melihat hanya beberapa negara yang memimpin ‘the new revolution industry’ tersebut. Hal ini terlihat jelas bahwa tidak semua negara memiliki ‘markas besar’ seperti silicon valley dan masih banyak negara masih yang tertinggal dalam hal ini.

Konsekuensi yang paling berbahaya dalam revolusi industri keempat ini yaitu ketika anda tertinggal di belakang dari negara lain, maka anda benar-benar tidak akan pernah untuk mengejar ketertinggalan tersebut, dan tidak akan memperoleh kesempatan kedua layaknya China di abad ke-19 yang tertinggal di awal revolusi industri. Hal ini terjadi karena jarak kesenjangan antara bangsa yang mengusasai kemampuan untuk ‘how to manufacture bodies, brains and minds” dan bangsa yang tidak menguasai hal tersebut terpaut sangat jauh.

Konsekuensi yang paling berbahaya dalam revolusi industri keempat ini yaitu ketika anda tertinggal di belakang dari negara lain, maka anda benar-benar tidak akan pernah untuk mengejar ketertinggalan tersebut, dan tidak akan memperoleh kesempatan kedua layaknya China di abad ke-19 yang tertinggal di awal revolusi industri. Hal ini terjadi karena jarak kesenjangan antara bangsa yang mengusasai kemampuan untuk ‘how to manufacture bodies, brains and minds” dan bangsa yang tidak menguasai hal tersebut terpaut sangat jauh.

Apple University

Transformasi Kesenjangan

Pada revolusi industri keempat kesenjangan yang sangat besar akan terjadi di antara umat manusia dibandingkan pada sejarah yang telah ada sebelumnya. Hal ini terjadi karena kesenjangan yang terjadi selama ini hanyalah kesenjangan semu. Kesenjangan yang selama ini terjadi yaitu disebabkan perbedaan kelas sosial, baik ekonomi maupun politik. Hal ini akan jauh berbeda dengan bentuk kesenjangan yang dibentuk dari perbedaan biologis manusia. Perbedaan ini akan menghadirkan sekelompok pihak yg lebih superior secara nyata.

Pada hakikatnya perbedaan sosial adalah perbedaan yang tidak nyata, karena kemampuan (biologis) kita sebagai manusia pada dasarnya tetap sama. Kemampuan hidup seorang raja, presiden, dengan rakyatnya hanya berbeda pada konteks kedudukan politik. Perbedaan keluarga konglomerat dengan keluarga pengemis, hanya berbeda pada tampilan saja, pakaian, jenis makanan, kendaraan, dan wujud tempat tinggal.

Sedangkan pada abad ke-21, melalui bantuan biotechnology dan artficial inteligence, pertama kalinya dalam sejarah umat manusia kita akan melihat perbedaan sosial akan berubah menjadi perubahan nyata dalam konteks biologis manusia, sehingga umat manusia berpotensi akan terbelah berdasarkan kasta biologis. Bukanlah tidak mungkin bila kita (manusia) akan terbelah berdasarkan perbedaan spesies.

Sedangkan pada abad ke-21, melalui bantuan biotechnology dan artficial inteligence, pertama kalinya dalam sejarah umat manusia kita akan melihat perbedaan sosial akan berubah menjadi perubahan nyata dalam konteks biologis manusia, sehingga umat manusia berpotensi akan terbelah berdasarkan kasta biologis. Bukanlah tidak mungkin bila kita (manusia) akan terbelah berdasarkan perbedaan spesies.

augmented human

Hal ini tidaklah mustahil. Apabila kita putar waktu pada 50.000 tahun yang lalu, maka kita akan mendapatkan fakta bahwa bumi pada saat itu diduduki oleh enam hingga tujuh spesies manusia yang berbeda, lalu tersisalah satu spesies yang mampu bertahan dari kehancuran umat manusia, yaitu Homo Sapiens, yang menjadi representasi manusia kita saat ini. Berdasarkan hal tersebut, sangat mungkin bila suatu saat akan muncul spesies manusia yang lahir tapi lebih kuat dari Homo Sapiens, sehingga akan menggeser Homo Sapiens yang terlanjur disebut sebagai si manusia cerdas.

Menuju Homo Deus

Bila anda sudah mengetahui possibility terbelahnya umat manusia berdasarkan kasta biologis bahkan dapat berujung pada diversifikasi spesies yang disebabkan oleh perkembangan bioteknologi pada ilmu medis, maka apakah kita tetap tenang atau harus waspada?

Tentunya kita tidak perlu cemas dan bersyukur atas kemajuan dunia medis yang berarti akan meningkatkan kesehatan umat manusia ke depan, tapi hal tersebut bisa terwujud dengan syarat apabila pelopor kemajuan dunia medis tidak hanya dikuasai oleh sekelompok elit saja. Bila yang terjadi sebaliknya maka akan semakin membuka gap yang sangat besar.

Ketakutan harusnya wajar apabila kita melihat sejarah di abad ke-20, pada saat itu perkembangan medis yang paling penting (vaksinasi dan antibiotik) hanya dikuasai oleh segelintir pihak sehingga hanya menguntungkan kelompok atas.

robotic telesurgery

Kita tak akan mampu memastikan apakah sejarah di abad ke-20 akan terulang kembali, karena kita yakin abad ke-21 adalah abad yang sangat berbeda. Mengapa? Pertama, semua obat di abad ke-20 memiliki peran hanya sebagai penyembuh penyakit, tapi esensi utama obat akan sangat berbeda di abad ke-21. Obat tidak lagi hanya untuk menyembuhkan penyakit, tapi akan berperan sebagai jalan untuk meningkatkan/ to upgrade kesehatan manusia.

Pemahaman yang kita ketahui selama ini terkait ‘menyembuhkan penyakit’ adalah usaha untuk mengembalikan keadaan manusia kepada kedudukan single norm atau standar kesehatan yang bersifat universal. Seseorang dikenakan sakit apabila Ia mengalami penurunan standar kesehatan yang bersifat universal tersebut, maka tugas dokter dan scientist untuk membantu orang tersebut kembali pada level standar yang terdekat.

Hal ini akan sangat bertentangan dengan prinsip ‘meningkatkan kesehatan’, di mana awalnya merupakan proyek dari kelompok elit dengan berasumsi bahwa telah ada suatu standar kesehatan universal, sehingga tujuan mereka yaitu mengembangkan dan menyediakan kemampuan manusia untuk meningkatkan standar tersebut menjadi supernormal, atau superhumans.

Perubahan fundamentasl juga akan terjadi pada dunia militer. Pada abad ke-20 untuk memperoleh kekuatan militer yang kuat, suatu negara harus melakukan rekrutmen kepada juataan orang agar dapat dididik dan menjadi kekuatan militer yang besar. Hal ini berbeda dengan militer di abad ke-21 yang akan merekrut jumlah personil lebih kecil, dengan mengutamakan orang-orang yang memiliki intelektual tinggi dan disokong oleh autonomous technology baik robot dan artificial inteligence lainnya. Jadi, ke depan kuantitas manusia sudah tidak lagi menentukan ‘military value’.

Pada dunia ekonomi, revolusi industri keempat juga memberikan impact yang siginifikan. Bila revolusi industri di abad ke-19 membuka lahirnya para pekerja kelas urban (urban working class), maka di abad ke-21 ini revolusi industri akan melahirkan useless class.

Lahirnya kelas tak berguna (useless class) merupakan akibat dari kehadiran artificial inteligence yang tidak hanya menimbulkan kelompok unemployed tapi juga unemployable. Siklus hidup manusia yang selama ini terbelah menjadi dua bagian akan terganggu. Normalnya di tahap pertama kita akan belajar segala hal (proses pendidikan di sekolah/ kuliah), dan tahap di kedua kita akan mengaplikasikan ilmu tersbeut melalui pekerjaan yang kita miliki. Namun, adanya revolusi industri keempat ini membuat kita perlu melakukan reinventing terus menerus sepanjang hidup.

Akhirnya revolusi industri keempat ini akan menghasilkan dua kelompok besar umat manusia. Pertama, kelompok elit yang merubah diri mereka menjadi superhumans. Kedua, kelompok besar yang masuk pada kategori useless class. Ada di manakah posisi kita saat ini dan di kemudian hari?

Referensi:

Ceramah Prof. Yuval Noah Harari di Action and Research Center (RSA).

Lebih lanjut dapat membaca Buku Sapiens: A Brief History of Humankind dan Buku Homo Deus: A Brief History of Tomorrow atau kunjungi ynharari.com

 

 

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *